Jumat, 25 Juni 2010

warna dunia

Posting nDaru kali ini samasekali bukan mau mendiskreditkan profesi PNS, nDaru tau kok banyak PNS yang juga banyak bekerja giat dengan gaji yang sak upril, yang nDaru sebut di postingan ini adalah oknum PNS yang mungkin ndak baek buat ditiru. Tapi tetep ndaru mintak maap kalok ada yang kesentil, ndak sengaja je :D



Kemaren pas nDaru nglayat di kadang cerak, nDaru ketemu sama bulek yang udah dari taon King Kong ndak ketemu. Komentar pertama yang keluar dari mulutnya adalah betapa sekarang nDaru kelihatan tambah cungkring, koyo biting mlaku gituh. Terus nDaru ditanyak kerja dimana sekarang dan nDaru nyebut nama Universitas Nganu. Bulek ituh agak kaget dan komentar, “Ooo..lha swasta nduk. Kamu bakal diperas abis-abisan, cobak kayak bulek ini lho, kan PNS. Kerja jugak ndak berat-berat banget dan gaji juga dijamin”. Komentar begituh mbikin nDaru pengen mbledug di tengah suasana duka yang dirasakan sampe-sampe nDaru mbatin, “Woo lha pantes badanmu jadi kek King Kong bedakan bulek!”. nDaru udah sering denger komentar begituh ya. Tapi karena kemaren suwasananya sedang berbeda, jadi ya Tuhan ampuni sayah, sayah ngenyek bulek sayah sendiri.



Jawuh sebelum nDaru lulus kuliyah, nDaru sudah sering akrab mendengar doktrin (yang lagi-lagi) menggiring jadilah PNS, bukan karena jadi PNS kamu ituh berjuwang atas nama negara atok jadilah PNS karena kamu berkarya untuk negaramu. Tapi, yang sering nDaru denger jadilah PNS karena kamu bakal hidup dengan nyaman. Dan maap, lebih kasar lagih adalah jadilah PNS karena kamu cumak perlu datang, duduk menunggu kerjaan yang bisa dikerjakan sambil menutup sebelah mata, laluh dapet gaji tinggi. Ituh yang mbikin nDaru sebel, tapi nDaru endak mbenci PNS-nya, cuman benci dengan mereka yang malah menurunkan citra PNS dengan polah tingkah yang semrawut. Dan, cara mereka menganjurkan nDaru untuk jadi PNS malah tambah memperkuat pola pikir salah yang sejak dari duluh sudah dibikin, yaitu PNS=ENAK, SWASTA=SENGSARA,



Orang-orang tadi memandang kerja cuman endak lebih dari nyarik uang buwat makan, mbeli baju, dan kalok bisa mbeli BMW. nDaru endak yakin kalok mereka pernah mikir, dari sekian waktu yang sudah berlaluh apakah sayah sudah mengerjakan sesuatu, apakah sayah sudah mempersembahkan sesuatu, minimal bahwa mereka bertanggungjawab terhadap kemampuan dan bakat sekaligus latar belakang pendidikan yang dimilikinya. Sama kek critanya Juminten, temen nDaru ituh, ada salah satu setaf di tempat kami kerja yang tiap hari dateng cuman duduk, bukak fesbuk, nyetel lagu sekenceng2nya, persis kek orang njuwal CD bajakan di pinggir pasar. Dan dia dapet gaji yang lebih lebih lebih tinggi. Dia mungkin bisa merasakan begitu enak, tapi nDaru endak yakin kalok dia bahagia lahir dan batin.



Duluh, pas nDaru memutuskan untuk pindah dari salah satu pabrik minyaknya negara ke Universitas Nganu inih, nDaru meyakini bahwa nDaru hidup bukan dari gaji nDaru, tapi dari pekerjaan nDaru. Memang, duit ituh perlu, tapi nyatanya dengan gaji yang kurang dari separo dari gaji nDaru di pabrik minyak itu, nDaru bisa hidup dan menghidupi hidup nDaru sendiri. nDaru merasa lebih merdeka buwat mengerjakan banyak hal dan lebih lagih berkarya, mengaplikasikan apa yang nDaru punyak buwat banyak orang.



nDaru jugak belajar dari si Juminten, temen nDaru yang endak selese menerima kemalangan ituh (hehehe). Kecintaan dia pada pekerjaannya melebihi kecintaan pada institusi dan orang-orang di sanah membuat dia mampu mensyukuri tiap kejadian. Meskipun jengkel ngajar mahasiswa-mahasiswa tengil, dapet email dan telepon gelap dari mahasiswa, dan masih endak dianggep sama atasan karena ndak doyan duwit haram, ya ndak sepenuhnya haram sih, suam-suam kuku lah, Juminten selaluh bilang, “Untung sayah ketemu mereka, jadi sayah tawu ituh endak baek”. Juminten jarang dapet bonus. Bonus yang dia terima murni karena pekerjaan regulernya. Lha, tapi dia bisa ngontrak rumah dan menghidupi anjing-anjingnya. Sementara temen-temennya yang kerja sambil numpang di ketek bapaknya ya masih jadi anak simbok yang mungkin nyebrang jalan aja perlu dituntun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar