Selasa, 29 Juni 2010

Senin, 28 Juni 2010

hadiah

"Rp 2.400.000 Bulan Pertama "ingin dapat uang tanpa kerja gabung besama kami


pasang ikan

jurus jitu mengahasilkan $125 dalam semalam

01 Juni 2010 01:38 | dibaca 75 kali

Apakah anda sedang cari uang di internet? Coba renungkan matematika bisnis sederhana ini. Bisnis apa yang Anda pilih: bisnis 30 x $125 ataukah bisnis 3000 x $1,25? Kalau dilihat penghasilan 'kan sama, yaitu $3750. Bedanya, pola bisnis yang pertama, kita hanya perlu sedikit saja transaksi, yaitu 30 saja. Sedangkan pola…

Iklan Premium

$1000 per bulan hanya dengan bisnis sederhana

01 Juni 2010 01:47 | dibaca 68 kali

mau penghasilan $1000 dalam waktu sebulan, dan itu pun hanya dengan melakukan bisnis sederhana dan bisa di kelola dimana2, yang anda perlukan hanya sebuah komitmen dan tekun, jika anda tertarik silakan kunjungi kami di http://currentbusiness.info/hosting

Iklan Premium

Kontes Affiliate Marketing BERHADIAH New Kia Picanto Senilai Rp.100.000.000

14 Mei 2010 04:04 | dibaca 113 kali

Kontes Affiliate Marketing BERHADIAH New Kia Picanto Senilai Rp.100.000.000,- Hallo para Internet marketer Dalam rangka mensosialisasikan Program AFFILIATE MARKETING sebagai salah satu Sumber Penghasilan dari Internet, kami mengadakan kontes AFFILIASI dengan hadiah utama Sebuah Mobil Picanto senilai Rp.100.000.000,- http://tinyurl.com/ydos79l

Iklan Premium

DIJUAL TANAH LOKASI STRATEGIS DEKAT JALAN RAYA

14 Mei 2010 19:44 | dibaca 119 kali

Dijual Cepat Sebidang Tanah Luas 603m2 SHM. Lokasi Srategis di pinggir Jalan raya Blora - Semarang Jawa Tengah. cocok untuk USAHA apapun Pertokoan MINI MARKET, COUNTER, PERKANTORAN, RUMAH dll.

Dikirim oleh: Harun Purnomo, Blora, 081333965606
Terdapat pada: Tanah, jual tanah, tanah dijual, tanah strategis, tanah murah, lokasi
Iklan Premium

Indikator forex Terprofit 2010

15 Mei 2010 03:12 | dibaca 131 kali

Wow... spektakuler, bisnis forex dan valas.. The most wanted information Gandakan Uang Anda Minimal 6x Lipat (600%) per bulan dengan Bisnis Forex di Internet dan raih kekayaan finansial yang luar biasa"

Iklan Premium

DIJUAL :: HANDY TALKY MOTOROLA GP-2000 HIGH FREQUENCY

27 Juni 2010 13:32 | dibaca 6 kali

**JAYAPERSADACOMM**JUAL HANDYTALKY-RIG-SSB-GPS-REPEATER!!! Distributor Radio komunikasi dari berbagai merk seperti: MOTOROLA-KENWOOD-ICOM-YAESU/VERTEXSTANDARD-ALINCO- WEIERWEI-OLINCA-HYT DLL Adapun merk GPS : GARMIN-FURUNO-MAGELAN-SUNTODLL Untuk Pemesanan / Informasi harga Terbaik, anda bisa hubungi langsung : JUPRI ( 08129319498 /021-68099394,021-7703408) E-Mail : jayapersadacomm@yahoo.com YM : jayapersadacomm@yahoo.com Office : Jl. Danau Tondano 1 no.29.Sukmajaya Depok II Timur.JABAR 16417 http://jayapersadacomm.blogspot.com…

Dikirim oleh: Jupri, DEPOK, 08129319498/021-6809 | Kunjungi Website
Terdapat pada: Bisnis Online, handytalky, rig, ssb, repeater

JPComm :: DEALER HANDY TALKY MOTOROLA GP-2000,GP-3188,GP-338 PLUS BERGARANSI

19 Juni 2010 20:32 | dibaca 7 kali
===JAYA PERSADA COMM=== Dealer/supplier Radio komunikasi 2 arah/Two way radio, Amatir Band & Komersial Band: Dari Merk MOTOROLA>>>KENWOOD>>>ICOM>>>YAESU>>>ALINCO>>>HYT>>> WEIERWEI>>>SUICOM>>>OLINCA & ACESSORIES.dengan berbagai Type sbb; MOTOROLA HT ; GP-2OOO ,GP-328,GP-328PLUS,GP-338,GP-338PLUS,GP-3188,ATS-2500,MTX960,CP1660,A8,DLL RIG;GM338,GM3188,GM3688,DLL KENWOOD HT ;THK2AT,THK4AT,THG707,TH255,THF71A,DLL RIG;TM271,TMV7A,TS450 SAT/HX, DLL ICOM HT;ICV8,ICV85,ICV82,IC91A,IC92AD,ICT90,ICM1V,ICM34,ICM88,ICGM1600, ICA24 DLL RIG ;IC2200,ICV8000,IC207,1C208,IC2720,IC2820, ICM304,ICM402,ICM502,ICM604,DLL HF/SSB ;IC718,IC706MK2G,IC7000,ICM700 PRO,ICM71O ,DLL YAESU HT ;VX3R,VX6R,VX7R,VX8,VX150,VX160,VX170,VX177,DLL

koran marjinal

Blog ini
Di-link Dari Sini
Web
Blog ini
Di-link Dari Sini

Web

Peran Intelektual Dalam Perubahan Sosial

Rabu, Februari 20

James Petras

Pengantar

Membicarakan atau menulis tentang “kaum intelektual” hari ini, kita harus merujuk pada tataran posisi politik. Dari sayap kanan ekstrim (neoliberal-neokonservatif), melewati kanan-tengah (sosial-liberal), lalu menapak pada kiri-tengah (sosial demokrat), hingga berujung pada kiri-revolusioner (Marxis). Di dalam dan di luar kategori politik ini, kita juga memasuki ranah ekologi politik, feminis, gay, ras dan identitas etnik.

Sebagai tambahan, intelektual politik ini berada dalam latar kelembagaan yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah pemimpin-pemimpin dalam NGO (organisasi non-pemerintah/LSM), yang lain ditemukan di dunia akademik. Sebagian lainnya berkutat sebagai “intelektual publik,” wartawan, profesor, penasehat-penasehat serikat buruh, pemimpin-pemimpin partai politik, agamawan, dan penulis lepas.
Untuk tujuan paper ini, saya ingin memberikan fokus pada kaum intelektual kiri-tengah (center-left/CL) dan intelektual kiri-revolusioner (revolutionary-left/RL). Kedua kelompok intelektual ini saya pilih, karena keduanya paling mudah dilekatkan dengan proses perubahan sosial yang progresif. Intelektual CL, umumnya bermain dalam latar kelembagaan. Sementara intelektual RL, ditemukan terutama sebagai “intelektual publik” dan di universitas-universitas.

Politik Kelas

Baru-baru ini, salah satu jurnal kiri tertua di AS, Monthly Review, edisi Juli-Agustus 2006, menampilkan edisi khusus mengenai “Aspects of Class in the U.S.”

Beberapa tema menyangkut soal kelas di AS, dibahas di sini. Misalnya, artikel dari William K. Tabb, “The Power of Rich;” artikel Michael Perelman, “Some Economic of Class;” atau dari David Roediger, “Undocumented Workers & the U.S. Informal Economy.”

Pengantar dari John Bellamy Foster, merupakan pembuka kata yang sangat menarik. Foster menyebutkan, di AS fenomena mengenai self reproduction sebagai karakter esensial dari kelas tampak begitu nyata. Mengutip harian the New York Times (14/11/2002), Foster menunjukkan hasil temuan Bashkar Mazumber dari Federal Reserve Bank of Chicago, dimana sekitar 65 persen keuntungan yang diperoleh orang tua kaya di AS dialihkan kepada anak-anaknya. Studi yang lebih serius mengenai soal ini, dilakukan oleh Tom Hertz, ekonom dari American University, yang berjudul “Understanding Mobility in America” (paper ini bisa Anda baca di http://www.americanprogress.org).

Membangun Jaringan Intelektual Neoliberal

Kasus Hernando de Soto

Noer Fauzi dan Kim Malone

Majalah Tempo Edisi 10 September 2006, melansir publikasi khusus untuk menyambut kedatangan Hernando de Soto, pakar pembangunan dari Peru. De Soto datang ke Indonesia pada September itu atas sponsor Bank Danamon. Laporan yang dibuat bekerjasama dengan Bank Danamon, menghabiskan enam halaman (halaman 75 – 81). Termasuk dua halaman tulisan Joyo Winoto, Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Naskah dibuka dengan foto berwarna wajah Hernando de Soto, yang enak dipandang. Foto itu mau mencitrakan seorang pemikir kaliber dunia. Di bagian bawah gambar, tertera judul “Hernando de Soto: Gagasan Kontroversial dari Dunia Ketiga,” yang disertai kalimat yang dibuat untuk mengalasi “kehebatan” dari gagasan De Soto itu. Begini bunyinya: “Kapitalisme acap kali dituding sebagai penyebab kesengsaraan mayoritas penduduk dunia. Jurang perbedaan antara negara kaya dan miskin lebar, bahkanketimpangan antara kaum berpunya dan terpinggirkan di semua negara pun memburuk.” Halaman berikutnya dimuat suatu rubrik dengan judul “Benarkah dugaan ini?”

The Chicago Boys

Pada 3 Nopember 1970, Chile membuat sejarah dalam gerakan kiri internasional. Untuk pertama kalinya, calon presiden dari partai sosialis menjadikan instrumen pemilu sebagai jalan merebut kekuasaan dan menang. Calon itu adalah Salvador Isabelino del Sagrado Corazón de Jesús Allende Gossens atau lebih dikenal dengan nama Salvador Allende. Ia diusung oleh sebuah koalisi bernama Unidad Popular (UP) atau Persatuan Rakyat. Koalisi ini terdiri dari Partai Sosialis, Partai Komunis, Partai Radikal, MAPU (Movimiento de Accion Popular Unitario), dan pembangkang dari Partai Kristen Demokrat.

Segera setelah berkuasa, pemerintahan Allende memberlakukan serangkaian kebijakan radikal dalam bidang ekonomi: nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, nasionalisasi perbankan, peningkatan upah buruh, alokasi anggaran yang besar pada sektor pendidikan dan kesehatan, program susu gratis bagi anak-anak, menolak pembayaran utang luar negeri, dan memberlakukan kebijakan land reform. Seluruh program ini diberi label “Chilean road to socialism.”

Sekilas Tentang Analisis Kelas dan Relevansinya

Hilmar Farid

Saya diminta untuk membicarakan soal analisis kelas. Tapi, sebelum sampai ke sana, saya akan menyambung apa yang tadi disebut George Aditjondro, bahwa jangan hanya analisis kelas, kita juga harus mengerti soal etnis, dan jender. Peringatan semacam itu disampaikan, karena orang yang menggunakan analisis kelas menganggap, dimensi kelas itu penting—kalau bukan yang paling penting—di dalam kenyataan sosial. Saya tidak termasuk jenis itu.

Bagi saya, analisis kelas, jender, etnis, dan segala macam adalah cara kita mengorganisasi pengetahuan. Kita lihat suatu masyarakat, dimensi apa yang mau kita perhatikan: bisa kelas, bisa jender, bisa apapun. Dalam kesempatan yang satu, dimensi kelas sangat menonjol dibanding dimensi yang lain, sementara dalam kesempatan lain tidak. Dengan kata lain, analisis kelas merupakan satu dari sekian banyak cara untuk melihat masyarakat.

Sabtu, 26 Juni 2010

bagi bagi uang


mau dapet uang 100 juta gabung bersama kami di blog dimasrio
klikdisini

Jumat, 25 Juni 2010

warna dunia

Posting nDaru kali ini samasekali bukan mau mendiskreditkan profesi PNS, nDaru tau kok banyak PNS yang juga banyak bekerja giat dengan gaji yang sak upril, yang nDaru sebut di postingan ini adalah oknum PNS yang mungkin ndak baek buat ditiru. Tapi tetep ndaru mintak maap kalok ada yang kesentil, ndak sengaja je :D



Kemaren pas nDaru nglayat di kadang cerak, nDaru ketemu sama bulek yang udah dari taon King Kong ndak ketemu. Komentar pertama yang keluar dari mulutnya adalah betapa sekarang nDaru kelihatan tambah cungkring, koyo biting mlaku gituh. Terus nDaru ditanyak kerja dimana sekarang dan nDaru nyebut nama Universitas Nganu. Bulek ituh agak kaget dan komentar, “Ooo..lha swasta nduk. Kamu bakal diperas abis-abisan, cobak kayak bulek ini lho, kan PNS. Kerja jugak ndak berat-berat banget dan gaji juga dijamin”. Komentar begituh mbikin nDaru pengen mbledug di tengah suasana duka yang dirasakan sampe-sampe nDaru mbatin, “Woo lha pantes badanmu jadi kek King Kong bedakan bulek!”. nDaru udah sering denger komentar begituh ya. Tapi karena kemaren suwasananya sedang berbeda, jadi ya Tuhan ampuni sayah, sayah ngenyek bulek sayah sendiri.



Jawuh sebelum nDaru lulus kuliyah, nDaru sudah sering akrab mendengar doktrin (yang lagi-lagi) menggiring jadilah PNS, bukan karena jadi PNS kamu ituh berjuwang atas nama negara atok jadilah PNS karena kamu berkarya untuk negaramu. Tapi, yang sering nDaru denger jadilah PNS karena kamu bakal hidup dengan nyaman. Dan maap, lebih kasar lagih adalah jadilah PNS karena kamu cumak perlu datang, duduk menunggu kerjaan yang bisa dikerjakan sambil menutup sebelah mata, laluh dapet gaji tinggi. Ituh yang mbikin nDaru sebel, tapi nDaru endak mbenci PNS-nya, cuman benci dengan mereka yang malah menurunkan citra PNS dengan polah tingkah yang semrawut. Dan, cara mereka menganjurkan nDaru untuk jadi PNS malah tambah memperkuat pola pikir salah yang sejak dari duluh sudah dibikin, yaitu PNS=ENAK, SWASTA=SENGSARA,



Orang-orang tadi memandang kerja cuman endak lebih dari nyarik uang buwat makan, mbeli baju, dan kalok bisa mbeli BMW. nDaru endak yakin kalok mereka pernah mikir, dari sekian waktu yang sudah berlaluh apakah sayah sudah mengerjakan sesuatu, apakah sayah sudah mempersembahkan sesuatu, minimal bahwa mereka bertanggungjawab terhadap kemampuan dan bakat sekaligus latar belakang pendidikan yang dimilikinya. Sama kek critanya Juminten, temen nDaru ituh, ada salah satu setaf di tempat kami kerja yang tiap hari dateng cuman duduk, bukak fesbuk, nyetel lagu sekenceng2nya, persis kek orang njuwal CD bajakan di pinggir pasar. Dan dia dapet gaji yang lebih lebih lebih tinggi. Dia mungkin bisa merasakan begitu enak, tapi nDaru endak yakin kalok dia bahagia lahir dan batin.



Duluh, pas nDaru memutuskan untuk pindah dari salah satu pabrik minyaknya negara ke Universitas Nganu inih, nDaru meyakini bahwa nDaru hidup bukan dari gaji nDaru, tapi dari pekerjaan nDaru. Memang, duit ituh perlu, tapi nyatanya dengan gaji yang kurang dari separo dari gaji nDaru di pabrik minyak itu, nDaru bisa hidup dan menghidupi hidup nDaru sendiri. nDaru merasa lebih merdeka buwat mengerjakan banyak hal dan lebih lagih berkarya, mengaplikasikan apa yang nDaru punyak buwat banyak orang.



nDaru jugak belajar dari si Juminten, temen nDaru yang endak selese menerima kemalangan ituh (hehehe). Kecintaan dia pada pekerjaannya melebihi kecintaan pada institusi dan orang-orang di sanah membuat dia mampu mensyukuri tiap kejadian. Meskipun jengkel ngajar mahasiswa-mahasiswa tengil, dapet email dan telepon gelap dari mahasiswa, dan masih endak dianggep sama atasan karena ndak doyan duwit haram, ya ndak sepenuhnya haram sih, suam-suam kuku lah, Juminten selaluh bilang, “Untung sayah ketemu mereka, jadi sayah tawu ituh endak baek”. Juminten jarang dapet bonus. Bonus yang dia terima murni karena pekerjaan regulernya. Lha, tapi dia bisa ngontrak rumah dan menghidupi anjing-anjingnya. Sementara temen-temennya yang kerja sambil numpang di ketek bapaknya ya masih jadi anak simbok yang mungkin nyebrang jalan aja perlu dituntun.


wawancara dengan marjinal

"wawancara dengan marjinal"

woi!!!!!!!!!!!!!!!!

rasanya kurang pas tampa marjinal di blog ini hehehe,walo gw sangat telat dari yang laen tapi yang terpenting adalah argument tentang artikel ini bisa sampai,khususnya tentang punk dari sudut pandang marjinal,karena secara visual gw belon pernah ketemu ma mereka,tapi dari pola pikir logika tentang punk ada persamaam di antara kami!!

berikut ini gw kopipes dari www.koran-marjinal.blogspot.com

tentang kehidupan sehari-hari mereka di komunitas,dan sudut pandang mereka tentang punk!

Pengantar Editor:
Agustus yang lalu, majalah TRAX membuat laporan utama “The Story So Far: 30 Years of Punk Rock”. Farid Amriansyah, reporter Trax, mengajukan beberapa pertanyaan kepada Marjinal lewat e-mail, yang jawabannya kami kira berhak diketahui publik secara utuh.

- agak klise, tapi bisa cerita bagaimana marjinal terbentuk?

Bob OI: Marjinal dibentuk 11 tahun yang silam, pada 22 Desember — bertepatan dengan Hari Ibu di kalender nasional. Sebelas tahun yang lalu, kite ketemu di sebuah kampus grafika di Jakarta Selatan. Awalnya, gue pengen kuliah, tapi makin lama semakin nggak tertarik. Apa yang dipelajari di kampus udeh kita kuasai, gue udah gape menggambar, bikin desain, demikian juga yang laen. Kebanyakan kita ketemu ngobrolin situasi di luar kampus, yang atmospherenya represif, nggak bebas mengeluarkan pendapat atau berekspresi. Lalu kita bangun sebuah jaringan namanya Anti Facist Racist Action (AFRA), yang terlibat adalah kawan-kawan yang mempunyai kesadaran melawan sistem yang fasis banget.


Kita gunakan media visual, lewat poster dari cukil kayu, baliho dan lukisan yang menggugah kesadaran generasi muda, untuk melawan sistem fasis yang diusung Orde Baru. Selain melakukan diskusi, penerbitan newsletter, dan aksi turun ke jalan… Kita secara kebetulan gape juga main musik. Ya, dengan modal gitar n jurus tiga kunci, kita maen musik, bikin lagu sendiri yang berangkat dari kenyataan hidup sehari-hari.

Mike Marjinal:Lalu kita namakan kelompok itu Anti Military. Dalam perkembangannya, Anty Military dipahami orang-orang sebagai sebuah band akhirnya… Padahal kita bukan anak band! Musik ini kan sebagai alat komunikasi kepada khalayak yang lebih luas, lebih asyik.. medium menyampaikan pesan dan jadi inspirasi untuk anak-anak di pergerakan ke depan, ketika melihat kenyataan kehidupan sosial-politik dikangkangi rejim yang fasis militeristik. Dari awal, kesadaran kita bukan sebagai anak band.

Setelah Harto digulingkan, kita melihat dimensi yang lebih luas lagi. Persoalannya bukan lagi rejim yang fasis dan rasis saja. Tapi lebih luas lagi… Negeri ini jadi negeri ngeri… Banyak tragedi, perang saudara, buruh-buruh diperas, dieksplioitasi, rumah sakit dan pendidikan begitu komersial, kereta-api sebagai sarana angkutan melayani orang seperti mengangkut binatang. So dari sistem yang fasis, anti demokrasi, terpusat dan korup.. kini menyebar ke sendi-sendi kehidupan bangsa. Kita lupa bagaimana para pejuang dulu mendirikan Indonesia sebagai sebuah nation. Indonesia kan didirikan sebagai kesatuan dari tekad para pemuda yang beragam suku, agama, latar belakang sosialnya itu bersatu membangun sebuah nation! Lalu kita ganti nama, dari Anti Military jadi Marjinal. Kisahnya, ketika Mike dapat nama Marjinal, dia terinspirasi oleh nama pejuang buruh perempuan yang mati disiksa militer,” Marsinah..Marsinah… MARJINAL” Kata Marjinal sendiri waktu itu kan belum banyak dipakai untuk menjelaskan posisi orang-orang pinggiran.

- marjinal mengangkat beragam isu sosiopolitikdalam lirik kalian. Bisa cerita
apa misi kalian sebagai band?

Mike Marjinal: Lagi-lagi harus kukatakan dari lubuk hati yang dalam, cieee: “Kita bukan anak band”. Sejak kita membangun AFRA kita memang punya kesadaran melawan sistem politik kotor di negeri ini, khususnya melawan ideologi fasis militeristik rejim Orba. Sejak menjadi Marjinal, kita kembali ke tengah masyarakat, belajar dari keseharian mereka sekaligus jadi inspirasi bagi lagu-lagu yang kita ciptakan. Lirik-lirik iitu kan mengangkat persoalan tetangga, kawan dan masyarakat kita. Kita cuma asal comot apa yang menjadi gelisahkan. Kita cuma jadi cermin, yang merefleksikan segala yang dirasakan masyarakat. Kita selama bertahun-tahun, di kolektif TaringBabi, hidup di tengah kampung Setu Babakan. Awalnya, mereka was-was melihat penampilan kita yang sangar, tapi lama kelamaan masyarakat merasa senang, karena kita ikut gotong-royong, membuat acara Agustusan, workshop sablon dan segala keterampilan cetak-mencetak. Setiap hari, puluhan anak-anak punk dari daerah mana aja datang ke TaringBabi, tapi masyarakat tidak lagi was-was. Pernah gue dengar ibu-ibu bilang,”Anak-anak itu rambutnya aja yang aneh, tapi hatinya baek….” Ibu-ibu juga nggak takut melihat tato, yang penting hatinya kagak bertato!

Dari sini kita kan bisa melihat hidup yang berwarna-warni, kita rayakan perbedaan dengan damai. Band Marjinal itu kan salah satu usaha kita berkomunikasi dengan masyarakat. Album atau kaset yang kita rilis secara indie juga diniatkan untuk membangun komunikasi. Kita nggak nyangka, Marjinal didengar sampai Pulau Siladen nun jauh di Sulawesi Utara sana. Ketika kita diundang main untuk scene punk Manado, kawan-kawan dari Kotamubagu datang, itu kan letaknya di pedalaman. Bayangkan, mereka datang jalan kaki. Ketika ketemu gue, ada yang langsung buka baju memperlihatkan tato bertuliskan Marjinal. Gue terharu, sekaligus bangga dengan semangat persekawanan ini…

Bob OI: Kita maen di mana aja, tidak untuk scene punk doang. Acara ulang tahun, perkawinan, peluncuran buku… Bahkan Mike sering bilang, acara apa pun kita main, ini ruang untuk berkomunikasidan silaturahmi, memperluas kesadaran kita sebagai nation, usaha kita saling belajar dan bekerja sama-sama. Pernah seorang guru, namanya Pak Sukri, dari STM YZA, Ciawi nyari-nyari alamat kita, nyasar ke sana-kemari, niatnya mengundang kita main untuk acara sekolahnya, karena murid-muridnya minta Marjinal main untuk acara perpisahan. Ditawari band lain, mereka nggak mau. Sebelum main, kita selalu membuat work-shop cukil kayu (wood cut). Mereka sangat antusias mencetak kaos polos dengan desain cukil kayu. Kalau ada waktu, kita bisa main di mana saja, asal kebebasan kita enggak dibelejeti. Karena dari kebebasan itu kita ada. Kebebasan yang mengatur diri kita sekaligus respect dengan kebebasan orang lain.

- Arti punk buat kalian?

Bob OI: Kita bikin desain kaos: Pemuda Urakan Nan Kreatif (PUNK). Ya, itulah tafsir kita untuk punk walau kata itu muncul pertama di Inggris dari sebuah karya William Shakespeare, The Marriage of Lady Windsor .Sebagai sub-kultur, Punk berkembang tahun 80-an. Punk sebagai gerakan mengunggulkan rasa toleransi dan kebebasan. Punk, sebagai sang pemula, yang pertama meneriakkan ketidakadilan dan perlawanan terhadap sistem yang korup.

-Apa arti menjadi politikal bagi kalian?

Mike Marjinal: Berusaha terlibat dengan realitas, melawan sistem yang korup, dan berusaha melakukan perubahan yang lebih baik dari hal yang terkecil, teman, keluarga, tetangga, dst.

-bagaimana kalian menjalankan etos dan prinsip yang tumbuh dan berkembang
dalam punk rock seperti konsep D.I.Y hingga beragam bentuk kesadaran
sosiopolitikal dalam keseharian baik secara personal maupun sebagai band?

Mike Marjinal: Do It Yourself itu kan sesuatu yang ideal, sehingga kita mampu berjalan di kaki sendiri, nggak tergantung dengan sistem yang nggak berkeadilan. DIY, sebenarnya kan sudah ada dalam etos perlawanan dalam budaya kita. Suku Samin di Jawa Tengah dan sekitarnya itu sudah DIY, membuat peradabannya sendiri ketika daerah-daerah lain ditindas kolonial Belanda. Mereka menanam benih, memanen dan membuat rumah secara bersama untuk kebutuhan bersama. DIY harus dilihat dalam konteks seperti itu di sini. Kita kan nggak harus copy-paste DIY yang ada di England sono, yang ditafsirkan hanya anti ini dan anti itu. Menurut gue sih, DIY itu bertolak dari Kebebasan. DIY itu bukan aturan dan aturan, seperti menolak media mainstream, TV, sponsor, dlsb. Semua hal harus dilihat hubungan sebab dan akibatnya, bukan cuma slogan anti ini dan anti itu: anti TV nasional sini tapi nongol di TV asing dengan alasan solidaritas internasional. Ini sih cipoa! Gue prihatin dengan kondisi kayak gini. Sudah lama scene punk nggak pernah mendiskusikan hal-hal yang mendasar seperti ini. Ayo kita bicara, dengan argumen yang cerdas. Tahun lalu, sebuah televisi swasta nasional meminta Marjinal sebagai nara sumber untuik sesi acara bertajuk Punk. Kru TV datang ke kita, bertanya ini dan itu dan membuat liputan kegiatan sehari-hari di kolektif TaringBabi. Ya, kita menerima dengan terbuka dan apa adanya. Tapi sebelum acara itu ditayangkan, Marjinal disembur fitnah yang keji, dianggap tidak DIY karena bekerjasama dengan media mainstream…Blaut! Kita jadi narasumber bukan untuk promosi album atau ngomong tentang isi perut band, tidak! Jadi, semua itu harus dilihat konteksnya, hubungan sebab dan akibatnya. Kalau kita kerja kita dapat duit, tapi kalau kita diundang main band, coba aja tanya yang ngundang, kita nggak pernah memberatkan tuan rumah. Paling-paling cuma dapet ongkos balik, sekedar makan-makan bareng sedunia ha..ha..ha..

Selama ini, kita hidup bukan dari band. Kita bertahan hidup dan menjalankan aktivitas dari karya yang kita jual. Desain, sablon kaos, kaset,atau nyari duit di luar. Gue kadang ngajar atau dapat kerjaan menggambar di sekolah-sekolah. Gue melukis potret. Ableh selain nyablon juga ngojek. Begitulah kenyataannya… Lagi-lagi harus ogut bilang, “Kite bukan anak band”

-pandangan akan kondisi obyektif scene punk rock lokal sekarang?

Bob Oi: Ada yang hilang dalam scene punk sekarang: diskusi. Dulu kan sempat banyak zine yang terbit, sekarang terbit tempo-tempo dan banyak nggak terbitnya, kalau pun terbit materi tulisannya adalah tulisan-tulisan yang lama, itu pun sebagian besar hasil terjemahan dari zine luar, ya… masih copy-paste!

Implikasinya scene punk nggak pernah belajar mendiskusikan persoalan-persoalan yang mendasar, misalnya tafsir tentang DIY di Indonesia dalam konteks sekarang ini. Scene punk masih bergairah dengan fashion-nya, itu yang kenceng… Padahal itu kan semua simbolis sifatnya, yang harus diungkap menjadi sebuah pengalaman dan kesadaran. Kenapa rambut mohawk ala Indian, misalnya, itu suatu bentuk solidaritas terhadap suku Indian di Amerika yang tertindas dan termarjinalkan. Mengapa punk pakai sepatu boot… Itu suatu perlawanan terhadap militer, kita pakai atribut sepatu boot untuk nginjek lumpur jalanan pasar, ngebersihin got, nginjek tokai! Yang kayak-kayak gitu belum dipahami… Orientasi punk di sini masih sebatas ngeband, main musik, ngobrolnya atau gosip=gosipnya pun masih seputar itu. Punk rock itu genre musik titik. Sedangkan punk adalah way of life, yang ngebentuk karakter kita untuk terus melawan terhadap sistem yang nggak berkeadilan dan mandiri: Pemuda Urakan Nan Kreatif, yang mengedepankan kesetaraan, menolak hirarki. Jadi nggak ada senior dan junior dalam scene punk. Semua bisa saling belajar. Bukan saling menindas, dengan melarang ini dan itu. Tidak ada polisi dalam scene punk. Kalau punk penuh aturan dan aturan yang memblejeti kebebasan… Gua orang pertama yang menyatakan diri bukan punk! Mendingan jadi nelayan di Cilincing mancing ikan di tengah laut, nggak ada yang ngelarang!

-Seberapa besar ekspektasi kalian bahwa musik kalian bisa membawa perubahan
dalam masyarakat?

Mike Marjinal: Harapan terhadap perubahan yang diekspresikan lewat musik selalu menggelora di jiwa kita. Ketika sistem yang menindas dan korup ini merajalela, orang-orang kan selalu gelisah mencari katup pembebasan, minimal lewat musik yang didengar nyangkut di hati menjadi inspirasi untuk perubahan hidup yang lebih baik. Semua itu menjadi kesadaran yang ngasih energi, daya hidup, agar tetap survive di tengah negeri ngeri ini, dan bangkit untuk memperbaiki apa yang rusak atau selesai dalam diri kita, rumah dan lingkungan kita. Musik membentuk karakter individu yang kuat, memimpin dirinya atau rumahtangga/lingkungannya melakukan perubahan. Dari individu-individu berkarakter inilah akan dihasilkan kolektif yang kuat saling berbagi dan menolong yang lemah atau miskin. Kemiskinan kita kan tidak alamiah. Bayangkan Indonesia kan kaya, tapi kenapa kita miskin? Karena individunya lemah. Kita terlalu asyik bergerombol nonton orang ngeduk kekayaan Indonesia, kita lebih senang ongkang-ongkang dapat komisi 10 persen, yang kemudian diributkan. Hentikan itu semua! Ayo, kerja! Kalau kita kerja, niscaya karakter kita kuat! Sukarno dulu sering bicara tentang Berdikari, berdiri di kaki sendiri. Jauh sebelum DIY dikumandangkan di England sono!

Marjinal peduli dengan nation ini. Kita berusaha menulis lirik dalam bahasa Indonesia, karena kita peduli dengan nation ini, ingat Sumpah Pemuda. Awalnya, banyak yang mencibir, kok band punk liriknya pake bahasa Indonesia! Musik bagi kita kan salah satu jalan untuk berkomunikasi. Liriknya harus dipahami orang Indonesia dong. Musiknya boleh aja gado-gado, mau gambang kromong kek atau pake calung seperti Punk Lung dari Cicalengka, itu sangat kreatif, Atau terpengaruh geberan band-band punk sono, tapi lirik harus bahasa Indonesia walaupun nggak harus benar dan baik seperti yang dislogankan pemerintah. Musik itu selain enak didengar, untuk senang-senang tapi harus punya tujuan yang jelas yang diungkapkan lewat pesan yang memberi inspirasi untuk masyarakat. Kita meniru jejak Benyamin S. Semangat bang Ben serta perjuangannya, kita ambil. Terlepas genre musiknya, Benyamin.S bisa dibilang punk sejati.

-Selain lewat musik apa aksi konkrit kalian untuk mengaplikasikan lirik dan
kesadaran sosiopolitik yang kalian sampaikan?

Bob OI: Aksi kongkrit kita, ya lebih dekat dengan masyarakat dengan membuka ruang-ruang kreatif: bikin workshop cukil kayu di gigs, ikut aktif dalam kegiatan gotong-royong. Bikin pelatihan keterampilan sablon, creative-writing, teater, melukis dan berpameran di ruang-ruang publik dan sekolah. Selain membuka ruang dialog dengan memaksimalkan media audio-visual, kayak bikin film pendek tapi bukan pendek pikiran lho.. he..he…he… Semua itu sebagai langkah awal untuk berdialog dengan masyarakat. Tujuannya bukan cuma hal yang politis doang, kita belajar, berkarya, dan bekerja sama-sama. Sehingga masyarakat terlibat dalam proses kreatif kita!

-Bagimana masyarakat disekitarnya memandang dan menerima kalian?

Mike Marjinal:Masyarakat, terutama ibu-ibu, sayang banget ama Marjinal. Kalau kita bikin acara, ibu-ibu di Gang Setia Budi, Srengsengsawah yang bantuin masak-masak. Ibu-ibu pun latihan bina vokalia bareng kita untuk kegiatan panggung Tujuhbelasan. Anak-anak muda mulai belajar nyablon, bikin tato temporer atau bikin distro di sekitar danau Setu Babakan, daerah tujuan wisata lokal itu karena di sono ada wisata perkampungan Betawi.

Bob OI: Pernah sekali gue bawa ransel gede lewat gang mau ke jalan raya. Ada yang nanya mau kemana, tiba-tiba mood becanda gue kumat,”Saya mau pindah, Bu! Kebetulan nih mau pamitan sekalian…” Ibu itu langsung protes: gue nggak boleh pindah rumah, karena dia demen ngeliat keberadaan punk di Gang. Setiabudi. Dia langsung narik-narik ransel gue sambil mau nangis. Akhirnya, gue nggak tega, gue bilang sebenarnya isi tas itu cuma kaos-kaos yang mau didistribusikan ke distro-distro, si ibu pun baru bisa ketawa… Begitulah, kita banyak berhutang budi dengan masyarakat di sana. Ada Babak Jaya yang sudah kami anggap orangtua, ada Pak Maman yang punya kontrakan yang ngasih kebebasan menggunakan rumah itu untuk aktifitas work-shop anak-anak muda, ada anak-anak TK dan SD yang datang tiap sore latihan main jimbe, ada tamu-tamu dari Jerman seperti Mash mahasiswi antropologi Humbolt University, Berlin yang sedang bikin penelitian tentang komunitas punk di Indonesia, atau tamu dari Amerika, Kanada, Prancis, dan tamu-tamu silih berganti kawan-kawan street punk atawa punk kentrung dari Kali Pasir, Jembatan Lima, Kota, Senen, Manggarai, Matraman, Blok M, Meruya, yang datang tukar cerita setelah seharuian ngamen atau kawan-kawan scene punk dari daerah: Porong, Mojokerto,Malang, Blitar, Sukabumi, Bandung, Indramayu, Makasar, Manado, Medan, Pontianak, Ambon, Lampung, Palembang, Batam, sampai Sorong-Papua.

- ada informasi tambahan, rencana kedepan atau proyek lain?

Mike Marjinal: Setelah tour silaturahmi maen di beberapa kota tahun ini: Makasar, Manado, Kotamubagu, Pulau Siladen, Sukabumi, Bali, Cirebon, Bandung, Jampang dan beberapa gigs di pelosok Jakarta, kita sekarang mempersiapkan ngegarap album kelima, masuk studio rekaman di rumah kediaman almarhum Pramoedya Ananta Toer, yang kebetulan cucunya, Adit, adalah drumer Marjinal. KIta juga lagi bergerak berkarya, bikin cukil kayu (wood cut), selama ini karya yang udah banyak tersebar itu akan dipamerkan bulan November di Galeri Nasional, Bentara Budaya Kompas dan Galeri Inisiatif Independent yang diorganisir budayawan Taufik Rahzen. Dateng ya ke pameran ntar… Ada work-shop segala, pokoknya mantrapsss! Selama sebulan bikin pameran di tiga tempat sekaligus!!!! Habis kita kelamaan moloooorrr, sekarang ayo bangun! Banguuuunnn! Mantraps

FREE WALLPAPERS FOR INDONESIA!

Minggu, 20 Juni 2010

yg penting ku suka

sampai hidup ini tak punya rasa lagi
kutakkan berhenti tuk mengikuti kata hati (hoo hoo hoy)
sampai diriku ini tak punya daya lagi
kutakkan berhenti untuk mengapai mimpi mimpi
sampai jari tengahku tak bisa mengacung lagi
kutakkan berhenti walau harus naik gerbong lagi (heh heh hey)
ku tak peduli punyakau siapa yang penting ku suka
ku tak peduli walau kau tak suka
itu biasanya membuatku semakin mengila
dan semakin tergoda yang menahan nahan derita
walau kawat berduri taruh dalam jerami
ku takkan berhenti kuikuti jejak kriminal
waktu trus berlari lari dan lari lagi
ku takkan berhenti tetap ku ikuti kata hati [yeahh]
ku tak peduli punyakau siapa yang penting ku suka
ku tak peduli walau kau tak suka itu sudah biasa(2x

Sabtu, 19 Juni 2010

koran marjinal

Membicarakan atau menulis tentang “kaum intelektual” hari ini, kita harus merujuk pada tataran posisi politik. Dari sayap kanan ekstrim (neoliberal-neokonservatif), melewati kanan-tengah (sosial-liberal), lalu menapak pada kiri-tengah (sosial demokrat), hingga berujung pada kiri-revolusioner (Marxis). Di dalam dan di luar kategori politik ini, kita juga memasuki ranah ekologi politik, feminis, gay, ras dan identitas etnik.

Sebagai tambahan, intelektual politik ini berada dalam latar kelembagaan yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah pemimpin-pemimpin dalam NGO (organisasi non-pemerintah/LSM), yang lain ditemukan di dunia akademik. Sebagian lainnya berkutat sebagai “intelektual publik,” wartawan, profesor, penasehat-penasehat serikat buruh, pemimpin-pemimpin partai politik, agamawan, dan penulis lepas.
Untuk tujuan paper ini, saya ingin memberikan fokus pada kaum intelektual kiri-tengah (center-left/CL) dan intelektual kiri-revolusioner (revolutionary-left/RL). Kedua kelompok intelektual ini saya pilih, karena keduanya paling mudah dilekatkan dengan proses perubahan sosial yang progresif. Intelektual CL, umumnya bermain dalam latar kelembagaan. Sementara intelektual RL, ditemukan terutama sebagai “intelektual publik” dan di universitas-universitas.

Politik Kelas

Baru-baru ini, salah satu jurnal kiri tertua di AS, Monthly Review, edisi Juli-Agustus 2006, menampilkan edisi khusus mengenai “Aspects of Class in the U.S.”

Beberapa tema menyangkut soal kelas di AS, dibahas di sini. Misalnya, artikel dari William K. Tabb, “The Power of Rich;” artikel Michael Perelman, “Some Economic of Class;” atau dari David Roediger, “Undocumented Workers & the U.S. Informal Economy.”

Pengantar dari John Bellamy Foster, merupakan pembuka kata yang sangat menarik. Foster menyebutkan, di AS fenomena mengenai self reproduction sebagai karakter esensial dari kelas tampak begitu nyata. Mengutip harian the New York Times (14/11/2002), Foster menunjukkan hasil temuan Bashkar Mazumber dari Federal Reserve Bank of Chicago, dimana sekitar 65 persen keuntungan yang diperoleh orang tua kaya di AS dialihkan kepada anak-anaknya. Studi yang lebih serius mengenai soal ini, dilakukan oleh Tom Hertz, ekonom dari American University, yang berjudul “Understanding Mobility in America” (paper ini bisa Anda baca di http://www.americanprogress.org).

Membangun Jaringan Intelektual Neoliberal

Kasus Hernando de Soto

Noer Fauzi dan Kim Malone

Majalah Tempo Edisi 10 September 2006, melansir publikasi khusus untuk menyambut kedatangan Hernando de Soto, pakar pembangunan dari Peru. De Soto datang ke Indonesia pada September itu atas sponsor Bank Danamon. Laporan yang dibuat bekerjasama dengan Bank Danamon, menghabiskan enam halaman (halaman 75 – 81). Termasuk dua halaman tulisan Joyo Winoto, Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Naskah dibuka dengan foto berwarna wajah Hernando de Soto, yang enak dipandang. Foto itu mau mencitrakan seorang pemikir kaliber dunia. Di bagian bawah gambar, tertera judul “Hernando de Soto: Gagasan Kontroversial dari Dunia Ketiga,” yang disertai kalimat yang dibuat untuk mengalasi “kehebatan” dari gagasan De Soto itu. Begini bunyinya: “Kapitalisme acap kali dituding sebagai penyebab kesengsaraan mayoritas penduduk dunia. Jurang perbedaan antara negara kaya dan miskin lebar, bahkanketimpangan antara kaum berpunya dan terpinggirkan di semua negara pun memburuk.” Halaman berikutnya dimuat suatu rubrik dengan judul “Benarkah dugaan ini?”

The Chicago Boys

Pada 3 Nopember 1970, Chile membuat sejarah dalam gerakan kiri internasional. Untuk pertama kalinya, calon presiden dari partai sosialis menjadikan instrumen pemilu sebagai jalan merebut kekuasaan dan menang. Calon itu adalah Salvador Isabelino del Sagrado Corazón de Jesús Allende Gossens atau lebih dikenal dengan nama Salvador Allende. Ia diusung oleh sebuah koalisi bernama Unidad Popular (UP) atau Persatuan Rakyat. Koalisi ini terdiri dari Partai Sosialis, Partai Komunis, Partai Radikal, MAPU (Movimiento de Accion Popular Unitario), dan pembangkang dari Partai Kristen Demokrat.

Segera setelah berkuasa, pemerintahan Allende memberlakukan serangkaian kebijakan radikal dalam bidang ekonomi: nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, nasionalisasi perbankan, peningkatan upah buruh, alokasi anggaran yang besar pada sektor pendidikan dan kesehatan, program susu gratis bagi anak-anak, menolak pembayaran utang luar negeri, dan memberlakukan kebijakan land reform. Seluruh program ini diberi label “Chilean road to socialism.”

Sekilas Tentang Analisis Kelas dan Relevansinya

Hilmar Farid

Saya diminta untuk membicarakan soal analisis kelas. Tapi, sebelum sampai ke sana, saya akan menyambung apa yang tadi disebut George Aditjondro, bahwa jangan hanya analisis kelas, kita juga harus mengerti soal etnis, dan jender. Peringatan semacam itu disampaikan, karena orang yang menggunakan analisis kelas menganggap, dimensi kelas itu penting—kalau bukan yang paling penting—di dalam kenyataan sosial. Saya tidak termasuk jenis itu.

Bagi saya, analisis kelas, jender, etnis, dan segala macam adalah cara kita mengorganisasi pengetahuan. Kita lihat suatu masyarakat, dimensi apa yang mau kita perhatikan: bisa kelas, bisa jender, bisa apapun. Dalam kesempatan yang satu, dimensi kelas sangat menonjol dibanding dimensi yang lain, sementara dalam kesempatan lain tidak. Dengan kata lain, analisis kelas merupakan satu dari sekian banyak cara untuk melihat masyarakat.v

boikot\

Boikot
oleh: Marjinal

Gilanya tradisi yang ada didunia ini
Siapa yang kuat dialah yang berkuasa
Berlomba-lomba tuk mengincar-incari mangsa
Jika manusia tak kenal lagi manusia

Jilat-menjilat itu mah sudah biasa
Tikam sana tikam sini dan siap memangsa
He……hei terasu
Yang menjadi srigala tuk manusia yang lainnya
Manusia semakin gila

**
Yang kuat menguasai yang lemah dikorupsi
Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin
Yang pintar membodohi yang bodoh dibudayakan (2x)

Boikot boikot budaya yang memiskinkan
Boikot boikot budaya yang merusak
Boikot boikot budaya yang memiskinkan
Boikot boikot budaya yang merusak

He…………hei terasu
Saling menghisap jilat-menjilat saling injak-menginjak
Rampas-merampas tak pernah puas jadi semakin buas (2x)

Manusia semakin tak isi

Kembali ke **

marjinal

Marjinal adalah nama sebuah grup musik beraliran punk-rock tapi sebenarnya mereka bukan Group band karena mereka hanyalah orang-orang yang ingin menyumbangkan aspirasi mereka kepada negara dengan musik mereka. Marjinal berasal dari Jakarta, Indonesia. Kelompok musik ini sebelumnya bernama Anti ABRI, bersamaan dengan berubahnya nama institusi militer di Indonesia, nama Anti ABRI-pun berubah lagi menjadi Anti Military. Melalui lirik-lirik lagunya, Marjinal dapat dikategorikan sebagai kelompok musik berhaluan anarko-punk, karena liriknya banyak memuat tema-tema politik, dan semangat perubahan sosial. Beberapa lagu yang diciptakan oleh mereka banyak dinyanyikan oleh para aktivis yang sedang berdemonstrasi. Sejak berdirinya, kelompok ini telah menghasilkan beberapa album, diantaranya adalah: * Anti Military - Termarjinalkan - Predator

Sejak Marjinal bermarkas di Gang Setiabudi, Setu Babakan, Jakarta Selatan, dari hari ke hari kian banyak saja anak muda yang datang dan terlibat dalam program workshop. Selain membuka workshop cukil kayu dan musik, Marjinal mengusahakan distro sederhana. Sebuah lemari etalase diletakkan di beranda, menyimpan pelbagai produk Taringbabi; dari kaos, kaset, pin, stiker, emblem, zine sampai buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer. Di dinding didisplay puluhan desain kaos, di ruang tamu yang selalu riuh itu. Di tengah-tengah kotak display, ada gambar tengkorak yang berbarik sebagai ikon Taringbabi. Para punker biasanya datang secara berkelompok. Biasanya mereka duduk-duduk di beranda depan, melepas penat, setelah seharian berada di jalanan, sambil asyik ngobrol dan bermain musik. Dengan ukulele (kentrung), gitar dan jimbe mereka menyanyikan lagu-lagu Marjinal. Bob dan Mike pun ikut nimbrung bernyanyi bersama. Mike memberitahu accord atau nada sebuah lagu, dan menjelaskan makna dari lirik lagu itu.


Proses belajar dan mengajar, secara tidak langsung terjadi di komunitas, dengan rileks. Sebagian besar anak-anak itu memilih hidup di jalanan, sebagai pengamen. Ada yang masih sekolah, banyak juga yang putus sekolah. Mereka mengamen untuk membantu ekonomi orangtua. Sebagian besar mereka berlatar belakang dari keluarga miskin kota, yang tinggal di kampung-kampung padat penduduk; Kali Pasir, Mampang, Kota, Matraman, Kampung Melayu, Cakung, Cengkareng, Cipinang dan lain sebagainya. Bahkan ada yang datang dari kota-kota seperti Medan, Batam, Serang, Bandung, Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Denpasar, Makasar, Manado, dll. “Dengan mengamen mereka bisa bertahan hidup, dengan mengamen mereka bisa membiayai sekolah dan membantu belanja sembako untuk ibu mereka.,” kata Mike, aktifis Marjinal. Jika sekilas memandang penampilan mereka, boleh dibilang sebagai punk: ada yang berambut mohawk, jaket penuh spike, kaos hitam bergambar band-band punk dengan pelbagai slogan anti kemapanan. Kaki mereka dibalut celana pipa ketat dan mengenakan sepatu boot, ada juga yang hanya bersandal jepit.


buruh tani

buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota

bersatu padu rebut demokrasi

gegap gempita dalam satu suara

demi tugas suci yang mulia

hari-hari esok adalah milik kita

terciptanya masyarakat sejahtera

terbentuknya tatanan masyarakat

Indonesia baru tanpa Orba

marilah kawan, mari kita kabarkan

di tangan kita tergenggam arah bangsa

marilah kawan, mari kita nyanyikan

sebuah lagu tentang pembebesan

di bawah kuasa tirani

kususuri garis jalan ini

berjuta kali turun aksi

bagiku satu langkah pasti

lirik lagu marjinal marsinah

Kulihat
Buruh perempuan
Berkeringat
Membasahi bumi
Yang gelap

Energi yang kau curahkan
Begitu besar tlah kurasakan
Terhanyut dalam kesombongan terlupakan

Gemerlap cahayamu
Membentangi garis kehidupan
Ada lara rintih caci maki
Kau hadapi

Keringat dan ketegaranmu
Mengalir deras tak ternilai
Hanya tetes darah dan air mata
Yang kau curah

Ooo Marsinah
Kau termarjinalkan
Ooo Marsinah
Matimu tak sia sia

Jumat, 18 Juni 2010

MENCERMATI buku pelajaran bahasa Indonesia yang digunakan sebagai pedoman dalam pengajaran sastra di sekolah-sekolah, tampak bagaimana pengaruh politik dalam perkembangan sastra kita. Selama 32 tahun, murid-murid sekolah ini belajar tentang sastra Indonesia dalam versi yang sudah diakui oleh penguasa (baca: pemerintah Orde Baru), yakni sastra yang termasuk dalam kategori sastra tinggi (yang dengan sendirinya memakai bahasa tinggi), dan ditulis oleh pengarang-pengarang yang haluan politiknya sejalan dengan penguasa.

KARENA itu, yang paling diingat dari sejarah sastra pada akhirnya hanyalah nama-nama, karya-karya, atau juga ingatan yang sepenggal tentang Balai Pustaka. Dalam buku pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, sejarah (sastra) menja- di tidak kontekstual dan nir-makna.

Politik sastra telah meminggirkan pengarang-pengarang, menimbun karya-karya mereka dalam gudang arsip dan menguning dimakan zaman, serta meneguhkan dominasi satu genre atas genre yang lain. Dengan begitu, lenyaplah "sastrawan marjinal" ini dalam lipatan sejarah. Mereka hanya disimpan oleh orang-orang yang menganggap semua catatan dan karya selalu berarti, dan menjadi rekaman kritis terhadap kondisi sosial politik pada suatu zaman.

Buku "Tempo Doeloe" yang disusun oleh Pramoedya ini bisa menjadi usaha untuk mengurai kembali-secara tidak langsung-politik sastra di masa lalu. Pramoedya memunculkan kembali nama-nama penulis yang sekarang ini terlupakan dan tak tercatat dalam sejarah sastra.

Ada beberapa penulis yang menyumbangkan karyanya dalam buku ini. Mereka adalah F Wiggers, yang menulis kisah "Soerapati Hakim Pengadilan (Bagian keenam dari: Dari Boedak Sampe Djadi Radja"), Tio Ie Soei dengan karyanya "Pieter Elberveld" (Satoe Kedjadian jang Betoel di Betawi), FDJ Pengemanann yang menulis dua cerita, yaitu "Tjerita Rossina" dan "Tjerita Si Tjonat", G Francis dengan kisahnya yang terkenal "Tjerita Njai Dasima", serta H Kommer dengan "Tjerita Kong Hong Nio" dan "Tjerita Nji Paina". Semuanya berkarya di awal abad ke-20.

MENURUT Pramoedya, terhapusnya nama-nama ini-juga karya- karya mereka, kecuali Nyai Dasima yang masih populer hingga sekarang-disebabkan oleh beberapa faktor. Yang pertama, karena pada waktu itu buku belumlah menjadi komoditas, sehingga tidak ada proses cetak ulang terhadap karya-karya yang telah dipublikasikan.

Kedua, karena pada waktu itu kebudayaan Islam sedang mengalami masa keemasan (sebagai pengaruh dari kemenangan pasukan Turki di bawah pimpinan Kemal Pasya), maka ada kecenderungan cerita-cerita yang berbau Eropa agak dilupakan orang, dan berganti dengan cerita- cerita yang penuh nuansa Islami. Dalam hal ini, Pramoedya mengajukan contoh pergeseran cerita dalam komedi Stambul.

Kemudian, faktor ketiga adalah karena penggunaan bahasa Melayu-baik Melayu Pasar maupun Melayu Tinggi-dalam karya-karya ini. Karya dengan bahasa Melayu, terutama Melayu Pasar, oleh pemerintah tak dimasukkan dalam kategori sastra Indonesia.

Pada saat itu yang mempunyai otoritas menentukan mutu karya sastra adalah Balai Pustaka, sebuah badan milik pemerintah, yang tugasnya memproduksi buku bacaan untuk pemeliharaan bahasa Melayu yang diajarkan di sekolah.

Pramoedya mengajak kita melihat wacana yang menjadi inspirasi penulisan sastra di masa lalu, khususnya pada awal abad ke-20. Ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan: tulisan-tulisan dan kisah-kisah apakah yang dibaca oleh kalangan intelektual dan masyarakat menengah pada waktu itu-karena pastilah yang bisa membaca hanya kalangan menengah-dan bagaimana karya sastra yang dihasilkan pada waktu itu memberikan gambaran yang kontekstual tentang apa yang terjadi pada suatu masa?

Delapan cerita yang ada dalam buku ini menunjukkan bahwa kolonialisme termasuk wacana penting yang mewarnai tema-tema karya sastra, meskipun kemudian hal ini tidak lantas menunjukkan keterkaitan yang langsung antara para penulis dan sikap mereka terhadap kolonialisme. Cerita "Soerapati Hakim Pengadilan", misalnya, menunjukkan simpati mendalam dari F Wiggers terhadap tokoh Untung Soerapati yang dengan gigih terus-menerus mengobarkan perlawanan menentang penjajah Belanda.

Kepahlawanan Soerapati menjadi semakin menonjol dalam cerita ini bukan saja karena pertentangannya dengan penjajah. Melainkan juga karena ia dengan terang-terangan bersikap konfrontatif terhadap para bangsawan yang bersekongkol dengan penjajah dan merugikan rakyat jelata.

Sementara kisah-kisah yang lain menangkap sisi yang berbeda dari kolonialisme. Beberapa di antaranya mengangkat kisah percintaan antara tuan-tuan Belanda dengan perempuan pribumi. Ini adalah isu yang cukup populer pada masa itu, karena biasanya kisah nyai menjadi sumber gosip dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kehidupan nyai yang diperbudak oleh tuan Belanda merepresentasikan kisah perempuan yang terampas kebebasannya-meskipun mereka mendapatkan pemenuhan materi yang cukup. Dan kisah nyai ini menjadi inspirasi bagi beberapa kisah yang ditulis sendiri oleh Pramoedya, misalnya dalam "Tetralogi Bumi Manusia" dan "Gadis Pantai".

BUKU ini sengaja diterbitkan dengan bahasa dan ejaan aslinya. Menurut sang penerbit, pilihan untuk tetap mempertahankan ejaan dari masa sebelum ada Ejaan yang Disempurnakan (EYD) ini adalah usaha untuk melihat lebih dalam bagaimana sesungguhnya kekuatan bahasa Melayu Pasar itu dalam anomali bahasa kontemporer.

Kehadiran bahasa Indonesia sendiri adalah representasi sebuah penjelajahan bahasa dalam sejarah pembentukan bangsa. Tentang hal ini, Hilmar Farid (1994) memberikan gambaran tentang bagaimana sejarah bahasa Indonesia memiliki kaitan yang erat dengan pembentukan bangsa, termasuk di dalamnya kaitan bahasa dengan politik kelas dari masa ke masa.

Meskipun pada awal abad ke-20 bahasa Melayu Pasar atau Melayu Rendah digunakan hampir di semua surat kabar yang terbit di Hindia Belanda pada waktu itu, tetapi pada akhirnya pemerintah kolonial mengangkat bahasa Melayu Tinggi yang disusun oleh CA van Ophuijsen sebagai "bahasa yang resmi". Dan bahasa inilah yang akhirnya berkembang terus-menurut Hilmar, nyaris tanpa hambatan-menjadi bahasa yang sekarang ini kita kenal sebagai "Bahasa Indonesia".

Mungkin, karena kita sendiri telah terbiasa dengan ejaan yang disempurnakan, maka akan ada sedikit kesulitan untuk bisa membaca dengan cepat kisah-kisah yang termuat dalam buku ini. Namun pilihan tetap mempertahankan ejaan lama, harus diakui, adalah usaha yang cukup unik dalam usaha mendemokratisasikan bahasa agar kita keluar sejenak dari hegemoni bahasa yang terus-menerus didesakkan negara.

Alia Swastika Anggota KUNCI Cultural Studies Center, Yogyakarta
MENCERMATI buku pelajaran bahasa Indonesia yang digunakan sebagai pedoman dalam pengajaran sastra di sekolah-sekolah, tampak bagaimana pengaruh politik dalam perkembangan sastra kita. Selama 32 tahun, murid-murid sekolah ini belajar tentang sastra Indonesia dalam versi yang sudah diakui oleh penguasa (baca: pemerintah Orde Baru), yakni sastra yang termasuk dalam kategori sastra tinggi (yang dengan sendirinya memakai bahasa tinggi), dan ditulis oleh pengarang-pengarang yang haluan politiknya sejalan dengan penguasa.

KARENA itu, yang paling diingat dari sejarah sastra pada akhirnya hanyalah nama-nama, karya-karya, atau juga ingatan yang sepenggal tentang Balai Pustaka. Dalam buku pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, sejarah (sastra) menja- di tidak kontekstual dan nir-makna.

Politik sastra telah meminggirkan pengarang-pengarang, menimbun karya-karya mereka dalam gudang arsip dan menguning dimakan zaman, serta meneguhkan dominasi satu genre atas genre yang lain. Dengan begitu, lenyaplah "sastrawan marjinal" ini dalam lipatan sejarah. Mereka hanya disimpan oleh orang-orang yang menganggap semua catatan dan karya selalu berarti, dan menjadi rekaman kritis terhadap kondisi sosial politik pada suatu zaman.

Buku "Tempo Doeloe" yang disusun oleh Pramoedya ini bisa menjadi usaha untuk mengurai kembali-secara tidak langsung-politik sastra di masa lalu. Pramoedya memunculkan kembali nama-nama penulis yang sekarang ini terlupakan dan tak tercatat dalam sejarah sastra.

Ada beberapa penulis yang menyumbangkan karyanya dalam buku ini. Mereka adalah F Wiggers, yang menulis kisah "Soerapati Hakim Pengadilan (Bagian keenam dari: Dari Boedak Sampe Djadi Radja"), Tio Ie Soei dengan karyanya "Pieter Elberveld" (Satoe Kedjadian jang Betoel di Betawi), FDJ Pengemanann yang menulis dua cerita, yaitu "Tjerita Rossina" dan "Tjerita Si Tjonat", G Francis dengan kisahnya yang terkenal "Tjerita Njai Dasima", serta H Kommer dengan "Tjerita Kong Hong Nio" dan "Tjerita Nji Paina". Semuanya berkarya di awal abad ke-20.

MENURUT Pramoedya, terhapusnya nama-nama ini-juga karya- karya mereka, kecuali Nyai Dasima yang masih populer hingga sekarang-disebabkan oleh beberapa faktor. Yang pertama, karena pada waktu itu buku belumlah menjadi komoditas, sehingga tidak ada proses cetak ulang terhadap karya-karya yang telah dipublikasikan.

Kedua, karena pada waktu itu kebudayaan Islam sedang mengalami masa keemasan (sebagai pengaruh dari kemenangan pasukan Turki di bawah pimpinan Kemal Pasya), maka ada kecenderungan cerita-cerita yang berbau Eropa agak dilupakan orang, dan berganti dengan cerita- cerita yang penuh nuansa Islami. Dalam hal ini, Pramoedya mengajukan contoh pergeseran cerita dalam komedi Stambul.

Kemudian, faktor ketiga adalah karena penggunaan bahasa Melayu-baik Melayu Pasar maupun Melayu Tinggi-dalam karya-karya ini. Karya dengan bahasa Melayu, terutama Melayu Pasar, oleh pemerintah tak dimasukkan dalam kategori sastra Indonesia.

Pada saat itu yang mempunyai otoritas menentukan mutu karya sastra adalah Balai Pustaka, sebuah badan milik pemerintah, yang tugasnya memproduksi buku bacaan untuk pemeliharaan bahasa Melayu yang diajarkan di sekolah.

Pramoedya mengajak kita melihat wacana yang menjadi inspirasi penulisan sastra di masa lalu, khususnya pada awal abad ke-20. Ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan: tulisan-tulisan dan kisah-kisah apakah yang dibaca oleh kalangan intelektual dan masyarakat menengah pada waktu itu-karena pastilah yang bisa membaca hanya kalangan menengah-dan bagaimana karya sastra yang dihasilkan pada waktu itu memberikan gambaran yang kontekstual tentang apa yang terjadi pada suatu masa?

Delapan cerita yang ada dalam buku ini menunjukkan bahwa kolonialisme termasuk wacana penting yang mewarnai tema-tema karya sastra, meskipun kemudian hal ini tidak lantas menunjukkan keterkaitan yang langsung antara para penulis dan sikap mereka terhadap kolonialisme. Cerita "Soerapati Hakim Pengadilan", misalnya, menunjukkan simpati mendalam dari F Wiggers terhadap tokoh Untung Soerapati yang dengan gigih terus-menerus mengobarkan perlawanan menentang penjajah Belanda.

Kepahlawanan Soerapati menjadi semakin menonjol dalam cerita ini bukan saja karena pertentangannya dengan penjajah. Melainkan juga karena ia dengan terang-terangan bersikap konfrontatif terhadap para bangsawan yang bersekongkol dengan penjajah dan merugikan rakyat jelata.

Sementara kisah-kisah yang lain menangkap sisi yang berbeda dari kolonialisme. Beberapa di antaranya mengangkat kisah percintaan antara tuan-tuan Belanda dengan perempuan pribumi. Ini adalah isu yang cukup populer pada masa itu, karena biasanya kisah nyai menjadi sumber gosip dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kehidupan nyai yang diperbudak oleh tuan Belanda merepresentasikan kisah perempuan yang terampas kebebasannya-meskipun mereka mendapatkan pemenuhan materi yang cukup. Dan kisah nyai ini menjadi inspirasi bagi beberapa kisah yang ditulis sendiri oleh Pramoedya, misalnya dalam "Tetralogi Bumi Manusia" dan "Gadis Pantai".

BUKU ini sengaja diterbitkan dengan bahasa dan ejaan aslinya. Menurut sang penerbit, pilihan untuk tetap mempertahankan ejaan dari masa sebelum ada Ejaan yang Disempurnakan (EYD) ini adalah usaha untuk melihat lebih dalam bagaimana sesungguhnya kekuatan bahasa Melayu Pasar itu dalam anomali bahasa kontemporer.

Kehadiran bahasa Indonesia sendiri adalah representasi sebuah penjelajahan bahasa dalam sejarah pembentukan bangsa. Tentang hal ini, Hilmar Farid (1994) memberikan gambaran tentang bagaimana sejarah bahasa Indonesia memiliki kaitan yang erat dengan pembentukan bangsa, termasuk di dalamnya kaitan bahasa dengan politik kelas dari masa ke masa.

Meskipun pada awal abad ke-20 bahasa Melayu Pasar atau Melayu Rendah digunakan hampir di semua surat kabar yang terbit di Hindia Belanda pada waktu itu, tetapi pada akhirnya pemerintah kolonial mengangkat bahasa Melayu Tinggi yang disusun oleh CA van Ophuijsen sebagai "bahasa yang resmi". Dan bahasa inilah yang akhirnya berkembang terus-menurut Hilmar, nyaris tanpa hambatan-menjadi bahasa yang sekarang ini kita kenal sebagai "Bahasa Indonesia".

Mungkin, karena kita sendiri telah terbiasa dengan ejaan yang disempurnakan, maka akan ada sedikit kesulitan untuk bisa membaca dengan cepat kisah-kisah yang termuat dalam buku ini. Namun pilihan tetap mempertahankan ejaan lama, harus diakui, adalah usaha yang cukup unik dalam usaha mendemokratisasikan bahasa agar kita keluar sejenak dari hegemoni bahasa yang terus-menerus didesakkan negara.

Alia Swastika Anggota KUNCI Cultural Studies Center, Yogyakarta
MENCERMATI buku pelajaran bahasa Indonesia yang digunakan sebagai pedoman dalam pengajaran sastra di sekolah-sekolah, tampak bagaimana pengaruh politik dalam perkembangan sastra kita. Selama 32 tahun, murid-murid sekolah ini belajar tentang sastra Indonesia dalam versi yang sudah diakui oleh penguasa (baca: pemerintah Orde Baru), yakni sastra yang termasuk dalam kategori sastra tinggi (yang dengan sendirinya memakai bahasa tinggi), dan ditulis oleh pengarang-pengarang yang haluan politiknya sejalan dengan penguasa.

KARENA itu, yang paling diingat dari sejarah sastra pada akhirnya hanyalah nama-nama, karya-karya, atau juga ingatan yang sepenggal tentang Balai Pustaka. Dalam buku pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, sejarah (sastra) menja- di tidak kontekstual dan nir-makna.

Politik sastra telah meminggirkan pengarang-pengarang, menimbun karya-karya mereka dalam gudang arsip dan menguning dimakan zaman, serta meneguhkan dominasi satu genre atas genre yang lain. Dengan begitu, lenyaplah "sastrawan marjinal" ini dalam lipatan sejarah. Mereka hanya disimpan oleh orang-orang yang menganggap semua catatan dan karya selalu berarti, dan menjadi rekaman kritis terhadap kondisi sosial politik pada suatu zaman.

Buku "Tempo Doeloe" yang disusun oleh Pramoedya ini bisa menjadi usaha untuk mengurai kembali-secara tidak langsung-politik sastra di masa lalu. Pramoedya memunculkan kembali nama-nama penulis yang sekarang ini terlupakan dan tak tercatat dalam sejarah sastra.

Ada beberapa penulis yang menyumbangkan karyanya dalam buku ini. Mereka adalah F Wiggers, yang menulis kisah "Soerapati Hakim Pengadilan (Bagian keenam dari: Dari Boedak Sampe Djadi Radja"), Tio Ie Soei dengan karyanya "Pieter Elberveld" (Satoe Kedjadian jang Betoel di Betawi), FDJ Pengemanann yang menulis dua cerita, yaitu "Tjerita Rossina" dan "Tjerita Si Tjonat", G Francis dengan kisahnya yang terkenal "Tjerita Njai Dasima", serta H Kommer dengan "Tjerita Kong Hong Nio" dan "Tjerita Nji Paina". Semuanya berkarya di awal abad ke-20.

MENURUT Pramoedya, terhapusnya nama-nama ini-juga karya- karya mereka, kecuali Nyai Dasima yang masih populer hingga sekarang-disebabkan oleh beberapa faktor. Yang pertama, karena pada waktu itu buku belumlah menjadi komoditas, sehingga tidak ada proses cetak ulang terhadap karya-karya yang telah dipublikasikan.

Kedua, karena pada waktu itu kebudayaan Islam sedang mengalami masa keemasan (sebagai pengaruh dari kemenangan pasukan Turki di bawah pimpinan Kemal Pasya), maka ada kecenderungan cerita-cerita yang berbau Eropa agak dilupakan orang, dan berganti dengan cerita- cerita yang penuh nuansa Islami. Dalam hal ini, Pramoedya mengajukan contoh pergeseran cerita dalam komedi Stambul.

Kemudian, faktor ketiga adalah karena penggunaan bahasa Melayu-baik Melayu Pasar maupun Melayu Tinggi-dalam karya-karya ini. Karya dengan bahasa Melayu, terutama Melayu Pasar, oleh pemerintah tak dimasukkan dalam kategori sastra Indonesia.

Pada saat itu yang mempunyai otoritas menentukan mutu karya sastra adalah Balai Pustaka, sebuah badan milik pemerintah, yang tugasnya memproduksi buku bacaan untuk pemeliharaan bahasa Melayu yang diajarkan di sekolah.

Pramoedya mengajak kita melihat wacana yang menjadi inspirasi penulisan sastra di masa lalu, khususnya pada awal abad ke-20. Ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan: tulisan-tulisan dan kisah-kisah apakah yang dibaca oleh kalangan intelektual dan masyarakat menengah pada waktu itu-karena pastilah yang bisa membaca hanya kalangan menengah-dan bagaimana karya sastra yang dihasilkan pada waktu itu memberikan gambaran yang kontekstual tentang apa yang terjadi pada suatu masa?

Delapan cerita yang ada dalam buku ini menunjukkan bahwa kolonialisme termasuk wacana penting yang mewarnai tema-tema karya sastra, meskipun kemudian hal ini tidak lantas menunjukkan keterkaitan yang langsung antara para penulis dan sikap mereka terhadap kolonialisme. Cerita "Soerapati Hakim Pengadilan", misalnya, menunjukkan simpati mendalam dari F Wiggers terhadap tokoh Untung Soerapati yang dengan gigih terus-menerus mengobarkan perlawanan menentang penjajah Belanda.

Kepahlawanan Soerapati menjadi semakin menonjol dalam cerita ini bukan saja karena pertentangannya dengan penjajah. Melainkan juga karena ia dengan terang-terangan bersikap konfrontatif terhadap para bangsawan yang bersekongkol dengan penjajah dan merugikan rakyat jelata.

Sementara kisah-kisah yang lain menangkap sisi yang berbeda dari kolonialisme. Beberapa di antaranya mengangkat kisah percintaan antara tuan-tuan Belanda dengan perempuan pribumi. Ini adalah isu yang cukup populer pada masa itu, karena biasanya kisah nyai menjadi sumber gosip dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kehidupan nyai yang diperbudak oleh tuan Belanda merepresentasikan kisah perempuan yang terampas kebebasannya-meskipun mereka mendapatkan pemenuhan materi yang cukup. Dan kisah nyai ini menjadi inspirasi bagi beberapa kisah yang ditulis sendiri oleh Pramoedya, misalnya dalam "Tetralogi Bumi Manusia" dan "Gadis Pantai".

BUKU ini sengaja diterbitkan dengan bahasa dan ejaan aslinya. Menurut sang penerbit, pilihan untuk tetap mempertahankan ejaan dari masa sebelum ada Ejaan yang Disempurnakan (EYD) ini adalah usaha untuk melihat lebih dalam bagaimana sesungguhnya kekuatan bahasa Melayu Pasar itu dalam anomali bahasa kontemporer.

Kehadiran bahasa Indonesia sendiri adalah representasi sebuah penjelajahan bahasa dalam sejarah pembentukan bangsa. Tentang hal ini, Hilmar Farid (1994) memberikan gambaran tentang bagaimana sejarah bahasa Indonesia memiliki kaitan yang erat dengan pembentukan bangsa, termasuk di dalamnya kaitan bahasa dengan politik kelas dari masa ke masa.

Meskipun pada awal abad ke-20 bahasa Melayu Pasar atau Melayu Rendah digunakan hampir di semua surat kabar yang terbit di Hindia Belanda pada waktu itu, tetapi pada akhirnya pemerintah kolonial mengangkat bahasa Melayu Tinggi yang disusun oleh CA van Ophuijsen sebagai "bahasa yang resmi". Dan bahasa inilah yang akhirnya berkembang terus-menurut Hilmar, nyaris tanpa hambatan-menjadi bahasa yang sekarang ini kita kenal sebagai "Bahasa Indonesia".

Mungkin, karena kita sendiri telah terbiasa dengan ejaan yang disempurnakan, maka akan ada sedikit kesulitan untuk bisa membaca dengan cepat kisah-kisah yang termuat dalam buku ini. Namun pilihan tetap mempertahankan ejaan lama, harus diakui, adalah usaha yang cukup unik dalam usaha mendemokratisasikan bahasa agar kita keluar sejenak dari hegemoni bahasa yang terus-menerus didesakkan negara.

Alia Swastika Anggota KUNCI Cultural Studies Center, Yogyakarta